Selasa, 18 November 2014

Elegi di Sore Hari

Kelabu kian menggumpal di atas pijakanku
Seiring jalan tanpa tujuan
Kaki tertatih seakan takut melangkah
Menerka pijakan apa yang akan ada

Butir-butir air surgawi seakan menetes
Mencoba membasahi jiwa yang kering
Temani diri untuk pulang
Atau pun diri untuk pergi

Suara kilat sayatkan hati
Tambah sendu elegi,nyanyikan
Coba 'tuk tuangkan rasa
Harap terang menyertai

Kamis, 15 Mei 2014

Usai

Pedih kian rasa dirasa
Rasa sesak mencokol dalam dada
Pedih terkoyak dalam hati
Yang lalu usai kini terganti

Megamu hadir dalam hari
Walau tersadar diri hanya mendamba
Usai kian masa terganti
Harus tersadar telah berbeda

Pergi tinggalkan bersama mimpi
Hempaskan raga dari langit ke-tujuh
Ubah bahagia jadi derita
Rusak pikiran, benci menjadi

Menerka hatinya apakah masih
Tersimpan kecil diselip gelap
Bagai pucuk pisau menusuk kulit pucuk telunjuk
Sakit pedih tergores berikan luka

Apalah arti jalan luas terbentang
Bila raga tak lagi ada
Temani diri menerjang
Walau benak masih penuh damba

Jumat, 11 April 2014

Mulai

Indah kian rasa di rasa
Warna indah mewarnai hati
Gelombang pekat nan kuat
Mencengkeram jantung meronta tak beraturan

Terasa diri bak dalam nirwana
Rasa sulit terjabarkan
Hanya dua yang bisa merasanya
Diri ini dan diri itu

Bagai dua kutub magnet yang semula terpisah terhalang waktu
Kini bersatu, bertemu, dan berpadu
Mencoba beri warna baru dalam hari
Menerjang badai penghalang

Kini penantian tak jadi penantian
Yang lama terpendam mencokol dalam hati t'lah bebas tak terkekang lagi
Jalan tersedia ‘tuk dijalani
Bersama dengan rasa indah sulit terjabari

Senin, 17 Februari 2014

Seperti Hujan


Aku ingin seperti hujan.
Turun, tegak, tak pernah sendiri.
Dia turun ke bawah, lurus.
Dan pasti 'kan menyentuh pertiwi.
Tujuannya pasti.

Aku ingin seperti hujan.
Yang bila turun, dia dapat mengalir.
Melewati celah-celah kecil dan lika-likunya.
Menuju suatu tempat yang pasti.
Tanpa dia harus berfikir mana jalannya.

Aku ingin seperti hujan.
Yang hidupi banyak insan.
Ditunggu sang petani.
Beri harapan sejuta umat.
Walau hanya hadir sementara.

Aku ingin seperti hujan.
Yang menjadi teman bagi jiwa yang sepi.
Yang menjadi pemanis dua insan yang mesra.
Yang amarahnya ditakuti.
Sehingga tak ada yang berani menantangnya.

Aku ingin seperti hujan.
Yang bila saatnya nanti,
dia 'kan kembali ke atas sebagai uap air.
Lalu turun kembali sebagai titik-titik air.
Dan selalu begitu siklusnya.

Andai aku ini hujan.
Semua sudah tergambar pasti.
Tak mungkin aku 'kan tersesat mencari jalan.
Andai aku ini hujan.
Tak'kan bisa kurasa sakit, pedih hati dalam raga.

Andai aku ini hujan..

Selasa, 14 Januari 2014

Pagi di Desa

Kemuning membentang luas
Bagai permadani di lantai pertiwi
Panji bagi para petani
Kan tiba saat memetik

Gemercik air dingin nan murni
Belum terdapat onggokkan benda nan bau
Murni membasahi diri
Segar terasa dalam jiwa tersentuh

Si bapak ibu kesana kemari
Ontel tua yang diayuh
Penuh senyum harapan pagi
Pagi di desa yang tak kutemui di kota

Minggu, 12 Januari 2014

Mortal

Tercengang aku
Berdiri tegak pada pintu bak nirwana
Indah dan hapuskan nestapa
Hilang asa dalam pencapaian

Tercengang aku
Dalam rasa puas diri
Sampai titik pencapaian
Puas, indah, bagai nirwana

Termenung aku
Teringat pada suatu hal
Buatku sadar kembali
Tak ada yang abadi di dunia

Minggu, 10 November 2013

Dia

Dia memang ada
Dia nyata
Dia selalu ada di dalam hariku
Dia dekat
Hadirnya pun dapat kurasa
Kulihat dan kusentuh
Tapi
Hanya raganya yang bersamaku
Hatinya miliknya
Tak bersamaku
Dan untuk memilikinya
Mungkin hanya anganku
Hanya sekedar impian
Impian si gadis yang mencintainya

Minggu, 18 Agustus 2013

Hanya Aku dan Waktu

Kini, semua itu terjadi. Apa yang kutakuti, apa yang kufikirkan sebelumnya, kini terjadi. Aku menengok ke belakang, berharap ku bisa merasakan lagi, mengulang, namun tidak bisa. Kini hanya aku dan waktu, yang terus berjalan, senantiasa berjalan, lewat dan sesekali singgah di sebuah perhentian, disitu aku merenung, menyadari semua berbeda, menyadari semua itu berubah. Hanya aku dan waktu yang terus berjalan, aku hanya bisa mengingat dan sesekali menengok ke belakang. Hanya itu.. Dan hanya satu yang kufikirkan, akankah aku bisa merasa atau mengulang lagi? Kini semua berbeda, semua telah berlalu, dan aku tak suka dengan ini, aku belum bisa menerima, aku masih seperti yang dulu, yang terjebak dalam suatu yang terus berjalan, dan tak bisa merasakan yang dulu. Aku takut, takut untuk menikmati. Karena bila kunikmati, aku akan larut dalamnya, dan bila waktu singgahku telah habis, aku akan meninggalkannya, aku akan kembali berjalan, dan meninggalkan semua kenyamanan menuju sebuah pembaruan yang ku tak tahu apakah itu akan sama. Hanya aku dan waktu..

Rabu, 03 Juli 2013

Perasaan Tak Dikira

Lain
Lain pula bila kurasa
Dengan dipandang
Mereka

Tak ada mengerti
Rasa jiwa menggelora
Gelegar berperang
Hanya dalam diri

Bilakah ada kata orang lain
"Sukacita yang dirasa"
"Gelora menyelimuti rupanya"
Salah

Tersembunyi terus rasa di dada
Perasaan terselubung tak terkirakan
Sebuah perasaan
Sedih dan tak ingin

Selasa, 02 Juli 2013

Yang Tertahan

Kelam malam kini
Sepi sunyi menyertai
Termenung daku
Sesuatu yang menyerbu

Gejolak perasaan

Dalam diri jadi penyerbuan
Dalam diri
Tak terungkapi

Bimbang daku

Ya atau tabu
Hilang atau pertahankan
Yang terfikirkan

Ingin berkata

Bibir menahan
Ini rasa
Semakin....