Kamis, 30 Juli 2015

Detik-Detik Pengumuman SBMPTN dan Tips Menghadapi Pengumuman SBMPTN

Sebelumnya, izinkan saya menceritakan pengalaman saya menanti detik-detik keputusan yang dapat mengubah hidup saya.

9 Juni 2015 lalu merupakan hari yang sangat menegangkan. Saat itu merupakan pengumuman kelulusan tes masuk perguruan tinggi negeri. Saya masih ingat sekali bagaimana rasa dan suasana saya pada saat itu. Pengumuman dilaksanakan secara online pada pukul 17.00 WIB. Saat itu saya sama sekali tidak memiliki bayangan apa yang akan terjadi. Apakah saya akan lolos seleksi itu atau tidak? Dan bilamana saya lolos, jurusan apa yang saya dapatkan? Apa universitasnya? Dan bilamana tidak lolos, saya sudah menyiapkan plan B, C, D. Hari itu saya tidak merasakan debar jantung yang cepat. Padahal di hari sebelumnya, saya merasa gugup. Tapi pada hari pengumuman itu, saya sama sekali tidak merasakan apa pun. Di saat teman-teman saya saling menguatkan, saya hanya diam. Saya memilih untuk tidak membuka media sosial beberapa jam sebelum pengumuman. Dan pada pukul 4 sore, saya memilih untuk menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan keliling komplek dengan menggunakan sepeda.

Waktu pun berlalu, sudah pukul 5 lebih namun saya belum membuka website pengumuman itu. Entah mengapa, saya belum memiliki feel untuk membukanya. Saya memilih untuk tidak terburu-buru. Baru saat pukul 6 lebih sedikit, saya memanggil ibu saya untuk bersama dengan saya membuka website itu.

Sungguh, sungguh saya terharu. Pada saat itu, ibu saya mengajak saya berdoa bersama, bertiga bersama adik laki-laki saya juga. Di dalam doanya, ia hanya meminta satu pada Tuhan, semoga apa yang saya dapatkan ini adalah hasil terbaik. Dan saya pun juga tidak menuntut Tuhan untuk memberikan sesuai dengan keinginan saya. Saya hanya berdoa pada Tuhan untuk memberi jalan yang terbaik. Apapun hasilnya akan saya terima dan saya akan syukuri itu. Saya sudah melakukan dengan semaksimal yang saya bisa dalam belajar serta mengerjakan tes. Saya percaya bahwa Tuhan akan memberikan buah yang baik bila kita melakukan suatu hal dengan baik pula. Ya, saya percaya apapun hasilnya adalah buah yang baik.

Dengan perlahan saya mengetikkan alamat website tempat pengumuman hasil SBMPTN. Dua website tidak bisa terbuka karena servernya penuh. Dan saya baru bisa membuka dari website Undip. Dengan penuh kepercayaan pada kuasa Tuhan, saya mengetikkan nomor ujian dan tanggal lahir saya. Saya masih ingat sekali perasaan itu. Saya baru merasa debaran jantung saya berpacu sangat cepat pada saat loading website itu. Saya menutup mata saya sembari menunggu loading selesai. Dan dengan perlahan, saya membuka mata..

Tepat di tulisan 'Universitas Indonesia' mata saya terbuka. Seketika, saya langsung berteriak bahwa saya lulus, dan ibu saya? Dia memeluk saya dengan sangat erat, kami menangis haru dan berdoa mengucap syukur dan terima kasih pada Tuhan atas apa yang Ia beri. Perjuangan saya selama 6 bulan terakhir berbuah indah. Kekecewaan tidak mendapatkan SNMPTN seakan sirna. Baru setelah itu saya membaca jurusan yang saya dapatkan. Ternyata saya mendapatkan jurusan pada pilihan kedua saya, yaitu Kriminologi.

Sungguh, perasaan saya saat itu adalah perasaan terbahagia yang saya rasakan semenjak beberapa tahun terakhir. Bahkan sampai sekarang, bila saya mengingatnya rasanya ingin menangis haru. Saya ingat masa-masa saya belajar menghadapi tes. Setiap siang, di bawah teriknya matahari saya harus menuju tempat bimbingan belajar. Dan di malam hari, saya mengerjakan soal-soal latihan. Terlebih ada rasa bangga karena selama saya nengikuti bimbingan belajar, saya tidak pernah mendapatkan pelajaran Ekonomi, sehingga saya harus belajar dan menguasai materi dengan sendiri bermodalkan fotocopy catatan milik teman dan juga soal-soal tahun lalu.

Setelah saya dan ibu saya menangis haru, baru saya membuka media sosial yang saya miliki untuk mencari kabar dari teman-teman saya. Sementara ibu saya mengabarkan berita bahagia itu kepada ayah dan kakak saya. Tapi, seketika saya merasa sedih. Saya harus meninggalkan banyak teman saya yang belum beruntung. Dan sahabat-sahabat saya, teman dekat saya, mereka semua belum beruntung. Saya merasa sedih. Saya juga merasa tidak enak dengan mereka. Serba salah rasanya bila berbahagia namun mereka sedang sedih. Saya tahu, bila saya menghibur dan menyemangati pun tiada arti bagi mereka. Jadi saya memilih untuk diam dan tidak bersuara. Saya tidak berani memberi kabar bahagia ini sebelum akhirnya mereka yang bertanya pada saya. Saya juga sedih, saya memiliki 2 orang teman baik yang sama-sama membuat janji untuk bertemu di kampus impian kami, Universitas Indonesia. Tapi 2 orang teman saya itu masih belum beruntung. Rasanya saya seperti mengingkari janji dan berjalan lebih dahulu. Saya hanya bisa berdoa semoga Tuhan memberikan semangat pada mereka dan membukakan jalan pada mereka untuk mendapatkan tempat yang lebih baik. Mungkin bukan bersama dengan saya, tapi saya percaya Tuhan telah menyiapkan tempat yang baik juga untuk mereka.

Di sini saya ingin memberikan tips untuk teman-teman yang nantinya atau sedang mengalami detik-detik pengumuman tes masuk.

Pertama, berusaha semaksimal mungkin, dengan seluruh niat dan kerja keras. Dan yang terpenting adalah dengan TULUS. Jangan terlalu ambisi, tapi jangan negative thinking juga. Hindari pikiran-pikiran yang isinya terkaan akan apa yang akan kalian peroleh. Serahkan semua pada Tuhan.

Kedua, berdoa pada Tuhan dengan penuh kepercayaan bahwa kuasaNya adalah besar. Sesuatu yang tak mungkin, bisa menjadi mungkin. Jangan berdoa yang isinya menuntut Tuhan untuk mengabulkan yang kalian inginkan. Tapi berdoalah agar Tuhan memberikan yang terbaik bagi kalian. Bicaralah pada Tuhan tentang apa yang kalian inginkan, dan berdoalah supaya Tuhan memberikan bila kiranya itu memang sesuai untuk kalian.

Ketiga, restu dari orang tua dan doa orang tua. Mintalah restu dari orang tua sebelum kalian memilih jurusan atau sebelum pengumuman. Mintalah doa dari orang tua kalian, terutama ibu. Percaya tidak percaya, ibu adalah Tuhan yang hadir dalam hidup kita secara nyata dan dapat dilihat.

Keempat, rendah hati. Janganlah sombong atau sesumbar. Jangan hanya memikirkan plan A saja, tapi juga pikirkan plan B, plan C. Berpikirlah secara luas, jangan hanya berpikir maju ke depan bila kalian lolos, tapi pikirkanbjuga plan B, plan C.

Kelima, percaya apapun hasilnya itu adalah yang terbaik. Tuhan pasti telah membuat garis hidup untuk kita. Kalau hasilnya sesuai dengan keinginan kita, maka pertanggungjawabkan pilihan kita itu dengan sebaik mungkin. Namun bila hasilnya tidak sesuai dengan keinginan kita, percayalah bahwa ada jalan lain. Tidak mungkin Tuhan membiarkan sesuatu yang tidak memiliki makna atau tidak berarti terjadi pads hidup kita. Percayalah bahwa rencana Tuhan itu indah.

Nah itu 5 tips dari saya. Bukannya saya sok alim atau sok bijak, tapi 5 tips itu memang benar-benar saya lakukan dan saya merasakan pengaruhnya. Bila kalian merasa usaha kalian kurang optimal, maka optimalkan pada doa. Karena dengan doa dan kuasa Tuhan semua bisa terjadi kan? Namun bila kalian merasa usaha kalian sudah sangat optimal, maka tambahlah dengan doa agar kalian menjadi lebih yakin dan mantab.

Akhir kata, saya ucapkan sukses bagi teman-teman!

Selasa, 18 November 2014

Elegi di Sore Hari

Kelabu kian menggumpal di atas pijakanku
Seiring jalan tanpa tujuan
Kaki tertatih seakan takut melangkah
Menerka pijakan apa yang akan ada

Butir-butir air surgawi seakan menetes
Mencoba membasahi jiwa yang kering
Temani diri untuk pulang
Atau pun diri untuk pergi

Suara kilat sayatkan hati
Tambah sendu elegi,nyanyikan
Coba 'tuk tuangkan rasa
Harap terang menyertai

Kamis, 15 Mei 2014

Usai

Pedih kian rasa dirasa
Rasa sesak mencokol dalam dada
Pedih terkoyak dalam hati
Yang lalu usai kini terganti

Megamu hadir dalam hari
Walau tersadar diri hanya mendamba
Usai kian masa terganti
Harus tersadar telah berbeda

Pergi tinggalkan bersama mimpi
Hempaskan raga dari langit ke-tujuh
Ubah bahagia jadi derita
Rusak pikiran, benci menjadi

Menerka hatinya apakah masih
Tersimpan kecil diselip gelap
Bagai pucuk pisau menusuk kulit pucuk telunjuk
Sakit pedih tergores berikan luka

Apalah arti jalan luas terbentang
Bila raga tak lagi ada
Temani diri menerjang
Walau benak masih penuh damba

Jumat, 11 April 2014

Mulai

Indah kian rasa di rasa
Warna indah mewarnai hati
Gelombang pekat nan kuat
Mencengkeram jantung meronta tak beraturan

Terasa diri bak dalam nirwana
Rasa sulit terjabarkan
Hanya dua yang bisa merasanya
Diri ini dan diri itu

Bagai dua kutub magnet yang semula terpisah terhalang waktu
Kini bersatu, bertemu, dan berpadu
Mencoba beri warna baru dalam hari
Menerjang badai penghalang

Kini penantian tak jadi penantian
Yang lama terpendam mencokol dalam hati t'lah bebas tak terkekang lagi
Jalan tersedia ‘tuk dijalani
Bersama dengan rasa indah sulit terjabari

Senin, 17 Februari 2014

Seperti Hujan


Aku ingin seperti hujan.
Turun, tegak, tak pernah sendiri.
Dia turun ke bawah, lurus.
Dan pasti 'kan menyentuh pertiwi.
Tujuannya pasti.

Aku ingin seperti hujan.
Yang bila turun, dia dapat mengalir.
Melewati celah-celah kecil dan lika-likunya.
Menuju suatu tempat yang pasti.
Tanpa dia harus berfikir mana jalannya.

Aku ingin seperti hujan.
Yang hidupi banyak insan.
Ditunggu sang petani.
Beri harapan sejuta umat.
Walau hanya hadir sementara.

Aku ingin seperti hujan.
Yang menjadi teman bagi jiwa yang sepi.
Yang menjadi pemanis dua insan yang mesra.
Yang amarahnya ditakuti.
Sehingga tak ada yang berani menantangnya.

Aku ingin seperti hujan.
Yang bila saatnya nanti,
dia 'kan kembali ke atas sebagai uap air.
Lalu turun kembali sebagai titik-titik air.
Dan selalu begitu siklusnya.

Andai aku ini hujan.
Semua sudah tergambar pasti.
Tak mungkin aku 'kan tersesat mencari jalan.
Andai aku ini hujan.
Tak'kan bisa kurasa sakit, pedih hati dalam raga.

Andai aku ini hujan..

Selasa, 14 Januari 2014

Pagi di Desa

Kemuning membentang luas
Bagai permadani di lantai pertiwi
Panji bagi para petani
Kan tiba saat memetik

Gemercik air dingin nan murni
Belum terdapat onggokkan benda nan bau
Murni membasahi diri
Segar terasa dalam jiwa tersentuh

Si bapak ibu kesana kemari
Ontel tua yang diayuh
Penuh senyum harapan pagi
Pagi di desa yang tak kutemui di kota

Minggu, 12 Januari 2014

Mortal

Tercengang aku
Berdiri tegak pada pintu bak nirwana
Indah dan hapuskan nestapa
Hilang asa dalam pencapaian

Tercengang aku
Dalam rasa puas diri
Sampai titik pencapaian
Puas, indah, bagai nirwana

Termenung aku
Teringat pada suatu hal
Buatku sadar kembali
Tak ada yang abadi di dunia

Minggu, 10 November 2013

Dia

Dia memang ada
Dia nyata
Dia selalu ada di dalam hariku
Dia dekat
Hadirnya pun dapat kurasa
Kulihat dan kusentuh
Tapi
Hanya raganya yang bersamaku
Hatinya miliknya
Tak bersamaku
Dan untuk memilikinya
Mungkin hanya anganku
Hanya sekedar impian
Impian si gadis yang mencintainya

Minggu, 18 Agustus 2013

Hanya Aku dan Waktu

Kini, semua itu terjadi. Apa yang kutakuti, apa yang kufikirkan sebelumnya, kini terjadi. Aku menengok ke belakang, berharap ku bisa merasakan lagi, mengulang, namun tidak bisa. Kini hanya aku dan waktu, yang terus berjalan, senantiasa berjalan, lewat dan sesekali singgah di sebuah perhentian, disitu aku merenung, menyadari semua berbeda, menyadari semua itu berubah. Hanya aku dan waktu yang terus berjalan, aku hanya bisa mengingat dan sesekali menengok ke belakang. Hanya itu.. Dan hanya satu yang kufikirkan, akankah aku bisa merasa atau mengulang lagi? Kini semua berbeda, semua telah berlalu, dan aku tak suka dengan ini, aku belum bisa menerima, aku masih seperti yang dulu, yang terjebak dalam suatu yang terus berjalan, dan tak bisa merasakan yang dulu. Aku takut, takut untuk menikmati. Karena bila kunikmati, aku akan larut dalamnya, dan bila waktu singgahku telah habis, aku akan meninggalkannya, aku akan kembali berjalan, dan meninggalkan semua kenyamanan menuju sebuah pembaruan yang ku tak tahu apakah itu akan sama. Hanya aku dan waktu..

Rabu, 03 Juli 2013

Perasaan Tak Dikira

Lain
Lain pula bila kurasa
Dengan dipandang
Mereka

Tak ada mengerti
Rasa jiwa menggelora
Gelegar berperang
Hanya dalam diri

Bilakah ada kata orang lain
"Sukacita yang dirasa"
"Gelora menyelimuti rupanya"
Salah

Tersembunyi terus rasa di dada
Perasaan terselubung tak terkirakan
Sebuah perasaan
Sedih dan tak ingin